Akhir-akhir ini olahraga memanah menjadi primadona baik bagi dewasa maupun anak-anak. Kemunculan film-film yang mempertontonkan keahlian pemanah dalam ceritanya, secara langsung maupun tidak membuat masyarakat berbondong-bondong belajar memanah. Dalam catatan sejarah, memanah pada awalnya dilakukan sebagai aktivitas berburu binatang. Pada tahun 1676 Raja Inggris Charles II mencetuskan ide menjadikan panahan sebagai salah satu olahraga. Dan pada tahun 1844 untuk pertama kalinya dilaksanakan kejuaraan nasional panahan di Inggris yang bernama Grand National Archery Society (GNAS). Sedangkan di Indonesia, panahan mulai dikenal sejak Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Surakarta pada tahun 1948. Dan pada 1953 dibentuklah Persatuan Panahan Indonesia (Perpani).

Selain sebagai olahraga yang bisa bermanfaat bagi kesehatan tubuh, panahan juga ternyata bisa membantu membangun beberapa karakter positif. Menurut Defrizal Siregar, Presiden Indonesia Archery School Program (INASP) beberapa karakter tersebut yang pertama adalah ketenangan dan fokus. Dalam olahraga panahan diajarkan fokus kepada sasaran atau target yang kita tuju. Fokus ini bisa diimplementasikan dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan ketenangan, bisa dilatih lewat cara berdiri yang tegap, pengaturan pernapasan, dan ketenangan dalam menghadapi gangguan.

Kedua adalah kontrol. Panahan bisa melatih diri untuk mengontrol emosi. Dalam melesatkan anak panah, kita dituntut untuk mempertimbangkan waktu yang tepat dan tidak terburu-buru. Dalam implementasi kehidupan sehari-hari karakter ini bisa melatih kita untuk membuat pertimbangan yang baik dalam mengambil keputusan.

Ketiga, value (nilai) yang bisa diambil dari olahraga panahan adalah harmonisasi tubuh, yang meliputi asperk kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Bentuk-bentuk karakter positif tersebut tentunya sangat bermanfaat untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih, jika kita mempunyai anak dalam usia pertumbuhan, panahan bisa menjadi alternatif untuk membentuk karakter anak.