Pengurus Panahan Indonesia (PERPANI) telah memiliki pengurus baru. Para pengurus yang di pilih oleh Pak Kelik Wirawan, sebagai nakhoda baru PERPANI, saat masih di isi oleh wajah-wajah lama, dan yang patut menjadi catatan, sebagian mereka adalah pebisnis alat-alat olahraga panahan.
Mungkin karena mengikuti pola pengelolaan pemerintahan era-nya presiden kita, Pak Joko Widodo, yang banyak melibatkan pebisnis untuk urusan birokrasi, maka pengurus PERPANI sekarang juga melakukan hal yang sama, atau hanya karena kebetulan saja, nggak masalah sih, asal para pebisnis itu bekerja sesuai dengan profesionalitas-nya.

Pesatnya Cabang Olahraga (cabor) Panahan

Pertumbuhan panahan era sekarang di Indonesia sangat masif, meriah dan booming. Dulu, dari tahun 1980-an sampai dengna 2000-an awal, rasanya, orang sulit mencari tempat latihan panahan, begitu pula untuk membeli alatnya. Dan olahraga ini termasuk ekslusif karena sulit menemukan pelatih dan tempat panahan itu sendiri.

Tapi di era 2010-an hingga sekarang, olahraga ini hampir menjamur di seluruh tanah air, bahkan di beberapa daerah menjadi bagian dari ekstra kurikuler wajib sekolah.

Perkembangan ini tentunya sangat membahagiakan. Ditambah lagi dengan event-event panahan yang juga luar biasa maraknya. Ibarat air bah, tidak dapat terbendung.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, penulis melihat, tahun 2019 ini saja tidak kurang di lima propinsi, yaitu Aceh dengan event Aceh Sumatera Archery Festival; Open Tournament Archery Danlanud Cup 2019, di DKI Jakarta ada MAC Open; FAST 2 Open; Piala Panglima TNI Open 2019; Indonesia Memanah pada bulan Desember , di Jawa Barat ada Ganesha Open 2019 Indoor; ASCI Open 2019; Kejuaraan Panahan Piala Dan Pusdikjas , di Jawa Tengah ada Gubernur AAU Open; Kejuaran Panahan Terbuka Piala Dandim Demak; dan Jawa Timur ada Ngalam Memanah, dan terakhir di Kalimantan ada Kaltim Series, Borneo Open).

Event turnamen panahan hampir setiap bulan ada. Bahkan jika dihitung total event tersebut, hampir setiap 3 minggu sekali ada even panahan, baik bersifat domestik (lokal) maupun nasional. Dan lebih membanggakan lagi, para penyelenggaranya sangat beragam, dari mulai sekolah, club, komunitas panahan, seperti INASP, BAREBOW INDONESAI, ASCI dan lainya.

Ini menunjukkan bahwa masyarakat terlibat aktif dalam memassalkan panahan, sehingga panahan sudah tidak lagi hanya diselenggarakan oleh PERPANI, yang dalam hal ini selaku induk cabor panahan di indonesia.

Melihat perkembangannya sedemikian pesat, sesungguhnya ini berkah bagi indonesia dalam hal regenerasi atlit panahan. Dengan luasnya daerah dan masif nya perkembangan panahan di indonesia sekarang, sangat mungkin jika di 5 tahun kedepan pada ajang olimpiade dunia, cabor panahan bisa di menangkan oleh Tim Indonesia, karena sangat mungkin indonesia memiliki atlit atlit panahan handal.

Tapi, apakah bisa demikian?

Bisa dan sangat bisa, manakala pola pembinaan ke-atlit-an cabor panahan berjalan dengan baik.

Menurut hemat penulis, PERPANI sekarang ini sangat di untungkan dengan banyaknya keterlibatan masyarakat, yang konsen membina cabor panahan. Dengan demikian, PERPANI sangat mudah untuk bisa menemukan bibit muda atlit panahan yang dapat di bina dan di bentuk lebih handal lagi, tanpa harus bersusah payah melakukan pembinaan dari dasar.

Mengapa demikian, bayangkan saja, ini sebagai contoh, Pada perlombaan FAST 2 Open 2019 kemarin, pada kategori ronde nasional, atlit-atlit berbakat dari komunitas panahan, mampu menandingi atlit-atlit panahan yang dipersiapkan daerah untuk bertanding di tingkat PORDA, bahkan ke tingkat PON. Ini sebuah kemajuan pesat luar biasa.

Dari event-event seperti ini, PERPANI hanya cukup mencatat scoring (nilai, red) mereka di berbagai event-event yang mereka ikuti, lalu tinggal mengkalkulasikan apakah pemanah tersebut layak untuk di masukkan sebagai calon atlit panahan Indonesia, lewat PPLP misalnya. Memang tidak sesederhana itu, untuk.mencetak atlit panahan. Tapi, sekarang indonesia punya modal besar untuk mendapatkan atlit handal pada cabor panahan.

Penulis membayangkan, jika saja di PERPANI ada sekelompok orang seperti ajang pencari bakat, maka mereka bisa memantau semua turnamen panahan yang sekarang menjamur itu. Mereka bisa melihat siapa saja club dan komunitas panahan yang mengirimkan atlitnya pada ajang event-event tersebut. Setahun saja mereka bekerja, pasti.mereka akan menemukan atlit-atlit berbakat panahan yang masih muda belia, tapi talenta panahannya luar biasa.

Perlukan Kanalisasi Club

Dengan pertumbuhan komunitas panahan di indonesia di tambah lagi dengan luasnya wilayah Indonesia, maka tugas PERPANI dalam membina cabor panahan menjadi sangat berat. Sebab, tugas pembinaan itu bukan sekedar mengeluarkan legalitas lewat secarik kertas saja untuk keberadaan sebuah club ataupun komunitas panahan. Tapi lebih menitikberatkan pada proses menyiapkan atlit dan proses pelatihan.

Maka, menurut hemat penulis, sebaiknya PERPANI membenahi aturan organisasi PERPANI itu sendiri, dengna mulai memikirkan untuk fokus pada pembinaan atlit dan pelatih, bukan pembinaan club.

Biarkan saja club-club dan komunitas panahan itu tumbuh subur sebagai bukti kecintaan masyarakat pada cabor panahan. Tinggal PERPANI cukup membuatkan acuan yang sederhana dan mudah, agar ketertiban munculnya club-club dan komunitas panahan lebih rapi dan lebih mudah terdata.

Buatlah aturan yang tidak memberatkan mereka, tapi setiap club dan komunitas panahan itu wajib menyetorkan atlit terbaiknya kepada PERPANI, baik di Wilayah maupun di Kabupaten Kota. Misalnya dalam waktu 2 tahun berdirinya club atau komunitas, maka club dan atau komunitas itu wajib menyerahkan atlit nya kepada PERPANI untuk di seleksi. Tinggal perpani membuat target apa saja yg harus dipenuhi, apakah dari aspek alatnya, fisiknya, tekniknya, skillnya, pencapaian scoringnya, atau keunggulannya di setiap event. Terserah, semua kembali kepada Induk Cabor Panahan (PERPANI) yang menentukan.

Berkaca pada pola sekarang, adanya seleksi atlit KEJURDA ataupun PORDA ataupun PON, yang mana muaranya kepada persiapan untuk ASIAN GAMES dan OLIMPIADE. Selama ini, ajang seleksi tersebut terkesan dadakan, asal asalan. Padahal, atlit itu perlu proses. Dan proses nya di mulai dari club dan komunitas panahan di tengah masyarakat. Endingnya, atlit-atlit itu berproses dalam kompetisi pada event-event club dan komunitas. Baru setelah itu, mereka mengikuti seleksi Pra PON ataupun KEJURDA/ PON. Jika ini dijalankan, sangat meringankan beban PERPANI dalam pembinaan.

Akhir nya, penulis melihat, peluang PERPANI untuk mendapatkan atlit handal pada cabor panahan sangat terbuka lebar. Tinggal saja, maukah mereka melakukan yang terbaik demi panahan indonesia yang berkemajuan, atau memang masih ada pengurus perpani yang memiliki kepentingan tersembunyi. Semoga tidak.

Sinergi itu sangat baik , dan sangat kuat jika sama sama berniat menuju satu kebaikan.

Salam Olahraga.

Pemerhati Indonesia memanah
Menjelang IM5 INASP 2019, LAPANGAN GOR POPKI, Jakarta Timur 13-15 Desember 2019