*Defrizal Siregar

Saat ini dunia pendidikan sering membicarakan tentang karakter,

Apa itu karakter?

Apa perannya dalam kehidupan manusia?

Bagaimana cara membentuknya pada diri manusia?

Karakter itu adalah sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti dan tabiat yang dimiliki manusia atau mahluk lainya. (kamus besar Bahasa Indonesia)

Komunikasi manusia dengan orang disekitarnya sangat dipengaruhi karakter yang dimiliki, karena terkait timbal balik dari komunikasi yang dilakukan. Kalau karakter individu baik dalam berkomunikasi maka akan terjadi komunikasi dengan orang lain. Sebaliknya individu yang berkomunikasinya kurang baik dengan orang disekitarnya maka timbal balik yang didapatkan akan tidak sesuai yang diinginkan sehingga rentan terjadinya konflik.

Karakter juga mempengaruhi mental juang seseorang dalam menjalankan kehidupannya. Apabila memiliki semangat juang yang tinggi maka kesuksesan yang ingin diraih akan mudah didapatkan dan terus terjaga. Karakter dimulai dari sikap positif yang dilatih terus-menerus dan akhirnya menjadi kebiasaan dan sikap mental individu sehingga mengakar menjadi karakter yang terus terbawa sampai akhir hidupnya.

Penemuan karakter positif pada diri individu akan mampu melejitkan potensi diri yang dimiliki, kemampuan untuk focus melakukan sesuatu disatukan dengan keberanian, maka akan melahirkan sikap percaya diri untuk mempengaruhi kemampuan dominan untuk meraih cita-cita yang ingin diraih. Jiwa kepemimpinan pun akan lahir pada individu yang memiliki karakter, penguasaan sepenuhnya terhadap diri mampu mempengaruhi orang-orang disekitarnya.

Karakter juga akan dibawa sampai ke surga, Manusia sebagai mahluk ciptaan Allah SWT diciptakan untuk beribadah dan juga melakukan amal sholih. Penemuan karakter yang dilakukan manusia hendaknya sesuai dengan panduan yang diwahyukan para nabi yakni KARAKTER PROFETIK, yang wajib ditanamkan agar kelak manusia dapat memberikan manfaat bagi seluruh alam. Karakter para nabi yang dijalankan dan disampaikan akan menjadi modal akhir kehidupan manusia, meninggal dalam kondisi terbaik atau Husnul Khotimah dan diberikan tempat terbaik (Surga) saat di akhirat nanti.

Membentuk karakter pada manusia menurut ajaran Islam dimulai dari memilih istri atau suami yang akan dinikahi, karena karakter yang dilahirkan pada anak dipengaruhi genetik kedua orangtuanya. Untuk itu pilihlah istri yang agamanya baik, begitu pula dalam memilih suami, ketika ada seorang laki-laki yang baik agamanya datang ke rumah dan hendak melamar, maka sangat dianjurkan untuk tidak menolaknya. Sehingga akan lahir anak-anak yang secara genetik punya modal karakter postif dari kedua orangtuanya, ini akan memudahkan orangtua untuk membentuk karakter pada anak ketika mereka dilahirkan.

Fase-fase pembentukan karakter pada anak, antara lain:

  1. Saat di kandungan

Kebiasaan positif orangtua pada saat hamil akan mempengaruhi karakter anak sejak didalam kandungan.

  1. Usia Balita

Fase balita adalah fase perkembangan pesat otak anak, maka interaksi intensif orangtua secara verbal & fisik akan mempengaruhi informasi jangka panjang bagi anak.

  1. Usia 6-9 Tahun

Tingkat aktif fisik yang tinggi pada fase ini harus diarahkan pada hal positif, untuk itu perlu diberikan berbagai aktivitas untuk menstimulasi beragam kecerdasan anak-anak, tentu dibarengi narasi dan deskripsi tentang aktivitas yang dilakukan agar dapat mengambil hikmah positif.

  1. Usia 10 -14 Tahun

Pada fase ini seorang anak sedang mengalami fase transisi kehidupannya dari dunia anak-anak ke fase dewasa, biasanya fase ini dinamakan remaja. Membangun tanggungjawab dan peran sangat penting untuk membentuk eksistensi diri, sehingga mereka merasa menjadi bagian subjek penting dalam keluarga dan lingkungannya.

  1. Usia 15 – 18 Tahun

Inilah fase terakhir para orangtua membentuk karakter anaknya, karena fase ini adalah jenjang strategis arah hidup seorang anak dimasa depan. Karakter positif seyogyanya sudah tertanam kuat dan menjadi kebiasaan yang sudah terbentuk pada jiwa. Mental juang untuk mengarungi kehidupan harus dimiliki agar mereka tidak cengeng menghadapi kehidupan. Orangtua berperan sebagai Coach dalam fase ini mengCoaching anak agar tumbuh menjadi problem solver dalam menghadapi masalahnya.

Tentu banyak metode lain dalam membentuk karakter anak disesuaikan dengan teknologi, konteks dan berbagai khasanah para orangtua dan pendidik dalam membangun karakter pada diri anak.

Akhirnya pembentukan karakter menjadi sebuah keniscayaan sebagai modal kehidupan agar sukses dan bahagia.